Home » , , , » Penderitaan Bukan Berarti tak Sukses

Penderitaan Bukan Berarti tak Sukses

Written By ahmad oktri on Monday | 16:44




http://puisi-tegar.blogspot.com_ Selamat malam pembaca setia blog tegar :), Suasana malam ini masih terselimuti Hari dimana dijadikan sebagai simbol bahwa Ibu adalah bidadari yang sangat Selalu ada buat kita, Rasanya masih begitu hangat saat beliau memeluk kita kan kan :)

                    Malam ini tegar akan berbagi Cerita nih, tentang 4 orang anak yang menjalani hidupnya sendiri melawan rasa takut karena ditinggal oleh Orang tua nya, bukan karena bekerja tapi karena orang tuanya bertengkar, sehingga mereka ditinggal sendiri di rumah :(, Semoga pembaca setia blog tegar ini semakin suka dengan cerita yang berasal dari kisah nyata kehidupan seseorang.


...................................................................................................................................................................
PENDERITAAN BUKAN BERARTI TAK SUKSES


Perkenalkan Namaku Dwi, gadis kecil yang berumur 10 tahun , aku adalah kakak pertama dari ketiga saudaraku yang hidup sendiri bersama adik - adikku di rumah besar tetapi tidak berisi barang berharga apapun di dalamnya karena semua barang telah terjual untuk melunasi hutang Bapak, Ibuku dan Bapak telah lama meninggalkan kami karena mereka bertengakar hebat, entah masalah apa yang mereka bahas tetapi aku tidak tahu semua itu,

                      Aku mempunyai 4 bersaudara, Aku sangat menyayangi mereka karena mereka lah semangatku untuk selalu hidup dan menjaganya, Adikku masih kecil semua, adikku yang pertama bernama Arif,Berumur 7 tahun,  Arif adalah seorang anak laki - laki yang tangguh, tak kenal menyerah dengan segala apapun yang menghalangi kami, Sedangkan yang kedua bernama Retno  masih berumur 5 tahun, karakternya yang malas, dan cengeng sering membuat aku bersedih, tetapi Retno lah yang selalu membuat aku untuk merubahnya agar seperti Arif, dan yang terakhir bernama Ahmad masih berumur 3 tahun, Aku sangat menyayanginya, Dia harus tetap hidup untuk meraih cita - citanya kelak.

                     Aku dan 3 Saudaraku di titipkan oleh Ibu ke Nenek Mertua dari Ibu, setelah kepergian ibu, kami tak dirawat, bahkan kami sering kelaparan karena tidak diberikan makan sama sekali oleh nenek ku,

tiba - tiba Ahmad Si bungsu menangis

"Ada apa adek ? adek laper ya ? Maafin kakak dek, kakak belum dapat makanan, "  Terangku ke Ahmad


Bukan malah diam , Ahmad semakin jadi menangisnya, aku semakin tidak tega dengan Ahmad karena dia masih kecil dan sebenarnya masih memerlukan susu,

"Mbak, gimana kalau adek, kita ajak ke belakang rumah, kita mencari ketumbar untuk dijual, nanti uangnya buat beli makan untuk adek bungsu" Bisik Arif kepadaku

"Wah ide bagus tuh dek, ayuk kamu gendong retno ya, biar aku gendong Ahmad," Sambutku

" Iya mbk, ayo ,, siapa yang duluan nyampai sana dapat hadiah ya mbk ? " tantang Arif

"hah , Ayo siapa takut " Jawabku akan tantangan dari Arif

Sembari berlari menuju belakang rumah, Inilah yang menambah motivasi hidupku dimana aku harus menjaga mereka untuk tumbuh dan berkembang menjadi dewasa,


Aku dan adik - adikku selalu bermain di belakang rumah karena disini adik - adikku bisa bermain bebas, dan aku bisa mencari Buah ketumbar yang jatuh dari pohon belakang rumahku untuk aku jual dan membeli makanan buat adek - adekku, meski itu hanya menjadi 1 bungkus nasi plus hanya lauk seadanya, tapi aku sudah bersyukur Allah masih memberi kami Rizki sehingga kami bisa makan,

Setiap malam kami selalu kedinginan, Aku selalu meneteskan air mata ketika aku melihat adik - adikku tertidur pulas, cuma diatas kardus bekas yang telah aku tata rapi untuk tidur, Aku selalu berfikir kenapa hidup kami berempat seperti ini seakan tidak ada yang memberi kami belas kasihan,


Hingga tiba keesokan harinya Retno ijin pergi menuju rumah nenek untuk minta makan, tak kusangka hanya satu bungkus yang dia dapatkan untuk kami berempat, begitu teganya nenek kami,

" Mbak, Ini nasi yang aku dapatkan dari nenek, hanya satu bungkus saja mbk, kata nenek kalau misalnya mau minta lagi harus bantu nenek untuk mengambil air di sumurnya," Terang retno

"Ohmmm,, gak papa dek, kita makan seadanya dulu ya , kita makan bareng - bareng meskipun cuma satu bungkus kita makan bersama, karena itu lebih enak ya kan Arif ?" Tanyaku ke Arif

" Iya dong mbk " Semangat arif membuat aku bertambah kuat


Seperti Biasanya ketika kami tidak diberi makan  oleh nenek kami, Aku langsung mengajak Arif dan dua adek ku lagi menuju sebuah kebun, dimana disana masih terdapat pohon karsen ( dalam bahasa jawa) lumayan untuk mengganjal perut kami yang lapar, Semua kami lakukan dengan senang hati meskipun kami hanya berempat,

" Adek, kamu besok mau jadi apa? Pilot, Dokter, atau Guru ? " Tanyaku pada ketiga Adekku

" Aku mau jadi orang sukses saja mbak, karena kalau aku sukses , aku akan mengajak mbak makan makanan yang enak setiap hari " Jawab Arif

" Aku mau jadi Tentara aja Mbk, aku akan lindungi kalian dari semua orang yang mau berbuat jahat" Sambung Retno

"Adek mau jadi Pilot Mbak, Nanti mbk akan aku ajak keliling dunia, seperti saat mbk menggendongku keliling bermain di tempat ini,," Sambut Si bungsu Ahmad

seketika itu mataku tanpa sengaja meneteskan air mata, aku memeluk mereka erat - erat, dan Aku berjanji akan terus menjaga mereka walaupun nyawaku taruhannya.

beberapa Bulan kami hidup seperti itu .............

Hingga suatu malam Ahmad menderita demam tinggi, aku membawanya ke sebuah Bidan desa dekat Rumahku, Tapi aku nggk punya uang untuk menebus obat untuk adek, aku bingung

" Ahmad, badan kamu panas banget, kamu kenapa ? " Cemas ku

"Arif, bangun dek, bantuin Mbk, Ahmad demam, kita harus mengantarnya ke Bidan desa" Lanjutku

" Ayo Mbk" jawab Arif yang masih mengantuk

Aku berlari sambil menggendong Ahmad, berlari sekuat tenagaku
" Ya ALLAH lindungi Ahmad , sembuhkan penyakitnya, hamba nggk mau kehilangan dia "

Sampainya di rumah bidan

" Assalamualaikum bu bidan, Tolong adek saya bu,,,, " Teriakku dari luar

"Ada apa nduk?? Ayo masuk biar ibu periksa adekmu" Sambut Ibu bidan

Beberapa menit kemudian Ibu bidan keluar memberikan obat kepadaku, Entah apa yang harus kukatakan, aku bingung aku nggk punya uang soalnya.

"Bu, maaf saya nggk punya uang bu,buat nebus itu" Tegasku padanya

" Udah nggk usah Dwi, Sudah bawa adekmu pulang dan rawatlah di rumah,"

"Makasih Bu bidan, Engkau wanita yang baik hati " Sanjungku

Lalu aku membawa pulang adekku dan Arif kembali ke Rumah, Setelah itu kami langsung tidur.

Keesokan harinya kamitidak bisa seperti biasanya karenaa Ahmad sakit, Kami belum makan sama sekali, aku pinta Retno untuk minta makan sama nenek,

"Retno, kesini dek ,,,,,,,,Tolong minta makan nenek ya, mbk nggk bisa ninggalin Ahmad untuk mencari ketumbar lagi, dia lagi sakit" Panggil ku

" Iya mbk" jawab Retno singkat langsung berlali

Namun retno tidak mendapatkan apapun, malah justru menangis ,

"Mbak, nenek jahat ya, masak cuma minta makan harus ambil air di sumur dulu sampai penuh, kita kan cucunya Mbk " Retno berkata sembari memelukku

"Sudah, nggk boleh bgtu, kita harus bersyukur," Jawabku

Tak lama kemudian Ibu bidan melihat kami yang lagi duduk di depan rumah dengan wajah kelihatan bahwa kami sedang lapar,dan beliau mengajak kami makan di rumahnya, sungguh senang hatiku , ada orang yang perduli sama kami,

Hampir setiap hari kami  diajak makan di rumahnya, dan dianggap seperti anaknya sendiri,
Hingga suatu ketika aku berfikir apakah aku akan merepotkan dia terus sampai aku dan adek - adekku dewasa,

Akhirnya malam itu aku mengirim surat di kampung untuk Bu lek dan nenekku yang disana untuk menjemput aku dan adekku disini

Inilah isi suratku yang aku kirim lewat pos

                 " Nek, tolong jemput kami  nek, aku pengen pulang kampung saja, kami disini dibiarkan oleh nenek mertua kelaparan, kami mencari makan sendiri,hanya untuk sesuap nasi saja aku dan arif  mencari ketumbar dulu , beliau tak perduli akan kita nek, Ahmad juga sering sakit karena mungkin sering merasa laper, Tolong nek , Aku sudah nggk kuat lagi" 

Selama tiga hari aku menunggu kedatangan nenek, Tak kunjung juga datang , Apa suratnya belum sampai ya ,

Sore itu aku minta Ketiga adekku untuk membereskan pakaian dan membawa bekal seadanya untuk di bawa pulang ke kampung,

Dan dari kejauhan aku melihat Pak lek ku berjalan mendekati kami,dan langsung memeluk kami berempat,

"Kalian sehat kan ? ??? Ya ALlah tega sekali orang tua nak, apa nggk ada orang yang perduli kalian disini, ayo pak lek antar pulang ,kalian hidup sama nenek di kampung saja " Pinta Pak Lek

"Kami disini baik - baik saja kok  pak lek, ada bu bidan yang selalu melindungi kami Pak lek" Jawabku

Setelah itu aku bergegas meninggalkan rumah dan menuju rumah bu bidan sebelum akhirnya kita pulang, Bu bidan memeluk kami dengan erat dan berdoa

"Semoga kalian sukses ya, jangan pernah ingat kejadian pahit yang menerima kalian, jangan pernah sekalipun merasa pengen Balas Dendam, Ibu Sayang kalian le " Doa Bu Bidan

" Iya BU bidan, jika kami sudah sukses kami akan menemui bu bidan kembali disini " Jawab kami serentak

Kami berpamitan dan langsung menuju terminal untuk pergi ke kampung bersama pak lek,


20 tahun kemudian ..............................................................................................................................

Hidup kami semakin membaik, aku menjadi Seorang pengusaha Tahu yang sukses, dan Adekku Arif menjadi seorang peternak Unggas yang sukses, Retnoo bekerja sebagai karyawan suatu perusahaan, Dan yang membuat aku sangat bangga sekali , Ahmad si bungsu yang sering Sakit - sakitan kini menjadi seorang Dosen di sebuah universitas terkenal di Sebuah Kota, Dan juga sudah memiliki mobil sendiri,

Setelah pulang dari Kampus yang dia ajar, Ahmad menemuiku di Rumah nenek


" Mbk, Masih ingat janjiku dulu "  Sambung Ahmad

" Apa??? Mau menaikkan ku naik pesawat??" Gurau ku

" hehehe, aku kan gak jadi pilot mbk, tapi sekarang aku punya mobil jadi, aku akan ajak Mbk,dan kakak semua keliling - keliling liburan " Tawar Ahmad

" gimana kalian berdua setuju nggk kalau kita ke Rumah Bu Bidan?" Tanyaku pada Arif dan Retno

"Ayo mbk, setuju" Jawab Mereka Serentak

Kami bergegas menuju rumah bu bidan, Perjalanan demi perjalanan kami lalui dengan janda gurau, dan akhirnya sampai di rumah Bu bidan.

" Assalamualaikum, Bu Bidan " Kami berempat  Bersemanagat

"waalaikumussalam, Ya Allah kalian , Alhamdulillah kalian sudah sebesar ini ya ,,, Ayo masuk dulu " Sambut Bu Bidan dengan rasa penuh terharu dan menangis sesaat memeluk kami

"Bu, nenek gimana ? sehat ? " tanyaku pada Bu bidan

" Ehmmmm , nenek kamu ,,,,,, nenek kamu sudah meninggal dari 5 tahun yang lalu nak," Jawab Bu bidan dan tak kuasa meneteskan air mata

" Nenek meninggal, ,,,,,, nggk mungkin ,,, tidak ,,, Nenek..............................." Teriakku tak kuasa menerima semua itu, aku memeluk adekku dan kami memutuskan untuk ke kuburan nenek diantar oleh bu bidan

"Nek, sekarang kami sudah dewasa nek, nenek lihat kan, Ahmad si bungsu yang sering sakit - sakitan sekarang dia sudah sukses, kami minta maaf nek telah merepotkan nenek" Aku memeluk adek - adekku dan Bu bidan

"Kalian memang Anak yang baik, Inilah hasil jerih payah kalian dalamm menghadapi segala ujian dari ALLAH,nak"

                                                                                                         By Ahmad Oktri Wahyu Susanto
Sekian.......................................................................................................................................................


Nah cerita di atas membuat saya meneteskan air mata, cerita ini tegar ambil dari cerita nyata yang pernah tegar dengar sendiri, kehidupan mereka yang penuh derita waktu kecil dan sekarang menjadi sukses, karena itu semua merupakan jembatan kita menuju kesuksesan , jangan pernah menyerah terhadap sesuatu masalah, Jika kalian bisa mengahadapinya mengapa tidak ???

Semoga cerita Ini dapat menjadi tauladan yang baik buat kalian ya





Share this article :

1 komentar:



Get this widget!

Happy Shell

 
Support : Tegar Indo Blog | Oktri Ahmad | Ote Bagi Ilmu
Copyright © 2013. Tegar Indo Blog - All Rights Reserved
Template Created by Tegar Published by TEGAR INDO BLOG
Proudly powered by Google